“Kemping” di Sydney

Well hey, welcome winter 2017!. Insya Allah akan jadi winter terakhir sih di Sydney (aamiiin) meski lumayan struggle juga dengan kondisi hamil yang rawan masuk angin ini. Sebenarnya, winter di Sydney tidak adem-adem banget kok, paling rendah masih 9 derajat Celcius. Setara pagi di lereng Bromo. Tapi, yang membuat semakin dingin adalah anginnya yang cukup kuat, bisa mencapai 30 km/jam. Dan tergantung angin apa yang bertiup, kalau angina south pole yah lumayan lah shiveringnya. Beberapa teman kuliah yang dari Eropa bahkan Mongolia, mengaku Sydney sangat freezing karena angin ini juga. Beruntung, bulan pertama winter kuliah sudah selesai dan masuk silent weeks , jadi bisa semedi saja di rumah untuk persiapan final exam.

weather.png

Tapi sebenarnya, yang cukup membuat tidak nyaman selama winter ini, adalah harus tinggal di dalam rumah, yang dingin juga. Banyak bergantung sama heater sih jadinya. Tapi tetap tidak fleksibel juga kalau harus menenteng heater kemana-mana ketika harus cuci piring, masak, bahkan mandi kan. Biaya listrik juga jadi pertimbangan sekali ketika harus menyalakan benda-wajib-punya ini sepanjang hari. Jadilah kita menyiasatinya dengan pakai baju berlapis-lapis, berkaos kaki, dan ehm, menghemat mandi (air). Hehe.

Lumayan surprise ketika winter pertama lalu pernah menanyakan ini ke beberapa teman yang mengerti masalah per-building-an, kenapa bangunan (rumah) Victorian ini dingin banget ketika winter dan masih panas banget ketika summer?. Ternyata mayoritas bangunan di Australia memang belum dilengkapi semacam teknologi bangunan yang konon lebih energy-saving, yang bisa meningkatkan thermal-performance,  biar penghuninya lebih nyaman. Salah satu medical journal, The Lancet bahkan melansir, tingkat kematian akibat musim dingin di Australia itu sekitar 6.5%, bahkan lebih tinggi dari Sweden yang 3.9%. Angka ini, bukan disebabkan karena suhu musim dingin yang ekstrim, tapi karena eksposur yang konstan dari suhu yang rendah tadi meningkatkan tekanan darah yang jika beresiko pada kematian. Fakta yang memprihatinkan dan bikin sedih sih, karena hal ini sebenarnya bisa banget dicegah.

Beberapa peneliti di Australia memang mengakui kalau rumah di Australia lebih semacam “tenda mewah” yang bahkan lebih dingin dibandingkan dengan rumah-rumah di Skandinavia. Dan selain faktor bangunan yang dari awal dibangun dengan less-energy saving tadi, cukup costly bagi penghuni untuk “menghangatkan rumah” yang banyak menggunakan energi gas dan listrik  (yang cenderung tinggi biayanya di Australia). Menggunakan alternative ondol heating (floor heating) seperti di Korea, dengan memasang pipa heater mengelilingi bangunan juga cara yang cukup mahal diterapkan disini (around 400US/month) jika harus dikombinasi dengan living cost di Sydney misalnya.

Semua ini, memang paling bisa dicegah dengan menerapkan standar pembangunan rumah yang lebih baik. Mulai dari pemilihan material, teknik bangunan sampai penggunaan alat rumah tangga yang memberikan thermal comfort sekaligus hemat energi. Di pemilihan materia seperti bata veneer misalnya. Jenis bahan bangunan yang digunakan di hampir 41% bangunan di Australia mempunyai thermal performance yang buruk, khususnya ketika summer. Penggunaan bata sebagai lapisan luar bangunan dengan plasterboard (eternit) pada bagian dalam membuat massa panas tidak terinsulasi dan lebih menyerap panas saat summer dan melepaskannya disaat winter. Teknik pemasangan jendela  (dengan double glazing/windows covering) juga sangat berpengaruh untuk mencegah panas dan dingin yang ekstrim. Kabarnya, kurang dari separuh rumah yang dilengkapi window shutter/awning dan bahkan tidak sampai 3 % yang menerapkan double gazing di Australia. Teman-teman pakar arsitektur dan sipil lebih expert nih kalau menjelaskan detailnya. Ini dari pemahaman awam dan curiosity saya semata jadi tetiba gemes ingin tahu. Kesannya seperti harus merenovasi bangunan total ya kalau ingin rumah lebih nyaman di cuaca apapun?. Tapi harganya tentu nggak sebanding dengan kenyamanan, kesehatan dan benefit jangka panjang dari hemat energi tadi.

Sama seperti di Indonesia, dukungan dari pemerintah lokal juga harus nyata dalam menetapkan standar yang sama buat housing untuk kalangan low income juga. Dan memang pemerintah nggak bisa kerja sendiri tanpa kerjasama dengan local community dan kalangan pengembang. Tentang pengembang, memang tidak ada pressure ke mereka untuk menerapkan standar pembangunan seperti ini jika tidak ada pressure dari pembeli juga. Pembeli yang sadar akan pentingnya thermal comfort dan efisiensi energi dalam bangunan. Di Australia misalnya, kurangnya kesadaran dari konsumen membuat kalangan pengembang juga ogah-ogahan membangun sesuai standar. Faktor kepemilikan bisa jadi faktor utamanya. Karena 1 dari 1o pemilik property (housing) di Australia, adalah orang asing, dan sepertiganya adalah orang China, yang cenderung tidak membeli rumah untuk ditinggali (lebih karena investasi), membuat mereka lebih concern pada luas rumah, faktor estetika dan resale value daripada standar bangunan. Ini menurut Daily Telegraph lho ya J. Dan pressure itu, sangat mungkin dimulai dari edukasi konsumen dari pemerintah tentang pentingnya standar green-building ini diterapkan untuk kesehatan dan living-cost saving mereka.

Sebenarnya masalah bangunan dibawah standar keamanan dan kenyamanan juga jadi masalah penting di Indonesia juga. Ketika proyek pembangunan berjuta rumah murah dan bahkan perumahan pure komersial mempunyai kelemahan kualitas bangunan karena banyak faktor yang mayoritas “aktivitis” property tahu alasannya. Cost-cutting karena subsidi terbatas sampai alasan yang menguntungkan beberapa pihak yang melemahkan posisi konsumen yang hanya punya satu mimpi, asal punya rumah sendiri.

Advertisements
Posted in Uncategorized

ryhme

Angin malam ini terasa hangat.

Seolah ingin mencoba merangkul tubuhku yang lebih beku

Aku mencoba ramah,

Dia layak mendapat sebuah senyuman terima kasih.

Dia bertanya: “Langit cerah hari ini bukan?”.

“yes, i am just curious why it seems so happy today.

Apakah ada yang bersenang-senang di atas sana?”

Dia menjawab: “mungkin. membincangkan hal-hal manis di dunia.

atau sedang menertawakan kefanaan dibawah sini?”.

“Yang berlomba memenangkan sesuatu entah demi apa”

Dia bertanya: “‘Kompetisi’ ini terasa absurd bukan?”

” ya. atas nama keyakinan yang “takmungkin” universal

demi kemenangan memanipulasi

demi kepalsuan yang dibagikan

demi kebahagiaan atas nama egoisme”

Dia mengeluh: “Demensia dari memanusia,

ketika terlalu sibuk menuntut tanpa sungguh berlutut

kau bilang kau paling bijak dan paling mengerti?

kau bilang kau memahami namun tak berempati?

Ingatlah kembali mengapa Tuhan memberimu akal dan hati”.

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized

Ibu

salah satu alasan mengapa saya memutuskan untuk menikah muda adalah ingin menjadi ibu. itu saja. ketika saat ini bergumul dengan akhir masa studi dan tanpa disangka mengandung, juga salah satu keinginan yang terpendam beberapa bulan belakangan. karena ingin menikmati pengalaman itu kembali, karena ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahan ketika menjadi ibu baru.

Sedari kecil pemandangan terindah adalah melihat bagaimana ibu mengasuh adik-adik saya penuh cinta dan tanpa lelah. tidak peduli ketika sempat merasa terasing dengan kasih sayang yang terbagi dan waktu yang tidak pernah cukup untuk bercerita tentang apa yang kulalui setiap hari, karena bayi, makhluk suci menggemaskan itu bisa merebut hati yang paling iri sekalipun. dan ayah..juga selalu hadir meramaikan kekosongan hati dengan perbuatan bijaknya. membuatmu berangan..sejarah itu pasti berulang dalam hidupmu. membuatmu berangan..menjadi ibu adalah keindahan sekaligus tantangan yang membuktikan jati dirimu sebagai perempuan sejati.

namun kadang membuatmu lupa, bahwa menjadi ibu, bukanlah karena itu adalah tujuan akhir dari semua petualanganmu, bukan juga indikator kamu telah mencapai ultimate position in your life, bukan juga tergantung seberapa banyak resources dan capabilities menjadi ibu yang kamu miliki, bukan juga karena kamu tidak punya pilihan karena bayi lahir dari keinginan dua manusia, tapi tergantung apakah kamu benar-benar menginginkannya. dan hal itu..hanya hati setiap perempuan dan Allah yang Maha mengetahuinya..bukan dari perempuan atau ibu-ibu lainnya, yang mungkin bahkan tidak pernah mempertanyakan kepada dirinya sendiri, kenapa dia menginginkan seorang anak; yang tenggelam dalam keyakinan bahwa anak adalah rezeki namun sering alpa bagaimana mensyukurinya dengan membesarkan anak tanpa visi, yang lebih parahnya, hobi melabeli perempuan atau ibu lain dengan pikiran sempitnya. sebagaimana mereka lupa, apa alasan mereka mempunyai anak, mereka juga lupa, apapun yang bersemayam dalam hati, hanya Allah yang tahu.

Menjadi ibu, selalu menjadi pengalaman yang paling personal dan unik, karena seorang ibu, dibesarkan oleh keluarga dan ibu dengan budaya, etos dan orientasi hidup yang berbeda. Hal itu sulit terlepas dalam proses menjadi ibu dan menjadi ibu seperti apa untuk anak-anaknya. saya lahir di keluarga pekerja yang mengutamakan pendidikan dan kerja keras untuk mencapai target-target hidup. menyeimbangkan urusan duniawi dan ukhrowi meski tidak mudah. kami bertiga diajarkan untuk wajib memasak dan memperhatikan setiap detail untuk anak meski kami luar biasa sibuk. Karena Ibu kami bukan hanya wanita karir yang workaholic, tapi juga perempuan yang sangat tangguh dalam urusan rumah tangga. Beliau perfeksionis dan tegas. kadang saya sebagai yang tertua, merasa tidak pernah mengenal ibu dengan baik. tapi seiring berjalanannya waktu, ketika ibu ada disamping kita di saat-saat terberat dalam hidup, kami bisa merasakan, cintanya bisa mewujud dalam berbagai bentuk. yang juga terus membuatnya bertransformasi menjadi manusia yang baru, meninggalkan egonya, mengubah self limitnya, dan meluaskan visinya. tidak peduli kita anaknya, atau manusia lain bisa memahaminya atau tidak, karena sekali lagi hanya Allah yang perlu tahu.

menjadi perempuan dan Ibu, di budaya patriarki yang kental, tidak pernah mudah. bagaimana tuntutan bercampur aduk dengan irasionalitas dan ketakutan bentukan budaya atas pilihan-pilihan yang kita ambil untuk anak kita. seolah semua orang lupa, siapa yang memahami makhluk kecil itu ketika masih di dalam perut kita. apa rahasia yang kita bagi bersama dan bagaimana perjuangan itu telah dimenangkan bersama. tidak heran, anak kecil lugu itulah yang paling mengerti arti senyum dan airmata kita. tangan mungilnya yang mengusap dingin wajah kita dan memberi kekuatan untuk terus menjaga visi untuknya. Selama tinggal di Sydney, meski tidak pernah mengenal dengan dekat banyak keluarga dalam prinsip kesetaraan versi mereka, namun sering berbagi momen yang sama karena bertetangga, saya melihat banyak perbedaan yang membuatmu merasa ingin mempertanyakan kembali, bagaimana sebuah keluarga sesungguhnya menginginkan seorang anak lahir ke dunia. bagaimana anak bukan lahir dari hanya keinginan seorang ibu, bukan sesuatu yang muncul tanpa rencana, dan bukan tumbuhan perdu yang tumbuh tanpa dirawat manusia (karena bahkan Allah yang merawatnya!). anak wajib dicintai oleh kedua orang tuanya, sama besarnya. seorang perempuan menjadi seorang ibu, seorang laki-laki menjadi seorang ayah, karena dicintai sama besarnya oleh pasangan dan anak-anaknya. dan cinta, adalah sesuatu hal yang tanpa lelah untuk dipelajari di luar bentukan budaya, etos, kebiasaan yang sudah diyakini lama dalam diri kita. satu hal yang mustahil namun bisa dilakukan jika kita mau. Bukan waktu yang membuat segala sesuatunya mudah berlalu, bukan kesibukan yang membuat kita tidak mau terus berubah, namun karena keengganan untuk berefleksi..mempertanyakan kembali, dulu saya ingin menjadi ibu seperti apa, saat ini sudah menjadi apa, dan apa yang bisa dicapai keesokan harinya. Ibu bagi sebagian orang mungkin sebuah keharusan, tapi ibu adalah profesi yang punya standar profesionalitas yang bertumpu pada keinginan terus belajar.

Tetaplah jadi calon ibu dan ibu yang tangguh..belajarlah dari banyak hal. dari agama, dari buku ilmiah, dari buku psikologi, dari experience, dari pengenalanmu atas karakter anakmu, dan temukan irisan disana. We may not be a perfect mother, but at least we are keep learning to be.

 

 

Posted in Uncategorized

inseende

People stares, people judge

For me with colour, for you with white.

Mind not them, keeps talk

you find peace, I feel free.

redeems fear,

answers prejudice.

believe in peace,

act the most real deeds.

 

 

 

Posted in Uncategorized

(only) a morning rhyme

jika boleh, penantian ini akan kujadikan sebuah buku. Yang dengan runut menjelaskan awal dan akhir. Yang memetakan setiap langkah yang benar dan sesat. Sehingga kita bisa menemukan jalan termudah untuk pulang. Yang untukmu adalah perjalanan kembali, dan untukku adalah perjalanan menuju.  Mungkin karena Waktu kadang mengungkap segalanya, membuat mengerti karena dibagi bersama. Tapi waktu kadang tidak memberi jeda, ketika berpuluh kepentingan mendesak kita keluar dari tujuan awal, mencerabut kita dari proses mengenal.

pagi berganti malam. Hari berganti bulan. Semakin menjauhkan kita mengenal tantangan yang nyata. Sebuah jarak.

mungkin aku terlalu dungu untuk mengerti. Tapi sulit membuatku melihat dengan jarak ini. Ketika Tidak boleh semua kata dibagi. Tidak boleh semua rasa tergelap diungkap. Tidak boleh dan tidak boleh yang memerangkap. Maaf menindih sedih. Maaf menindih jarak.

hingga waktu sekali lagi memberikan kejutan dan dengan ajaib melebarkan jarak maya. Yang sesungguhnya bisa kita dobrak jika kita ingin, tapi bagaimana jika salah satu dari kita tak ingin? Sementara hari semakin gelap dan dingin. Dan selimut tertebalpun tak mampu melindungi jiwa. Karena kesendirian tidak selalu menjadi teman terbaik.

dan pagi ini kembali menyatakan jarak. Meski dengan matahari secerah kesabaran, dan Tuhan yang Maha Bebas menentukan batasnya. Aku menanti seperti biasa. Untuk bisa bersama menuliskan buku ini denganmu.

28 august 2016  and annoying influenza.

 

 

 

 

Posted in Uncategorized

Let’s enjoy Ramadhan

Hi there,

Akhirnya memang harus Ramadhan di rantau :). But it’s okay, new experience, right? new people and place may surprise you..so, semangat dong!.

Hari pertama tarawih pas Sydney lagi ada storm, jadi nggak berani keluar rumah karena banyak pohon-pohon tumbang. Sirene berbunyi dari pagi sampai malam..listrik sempat padam nyala tapi all is good. Disini warning systemnya juga baik, jadi sebelum ada cuaca buruk gini kita sudah diannounce sebelumnya, dengan perkiraan waktu bencana yang sangat jelas, jadi semua rencana juga lebih enak di reschedule.

Leganya, karena masuk puasa, semua kuliah sudah kelar. Semua assignment sudah kelar..tinggal belajar untuk final exam 2 minggu lagi. Ini kebetulan yang patut disyukuri banget, karena ada beberapa fakultas yang masih ada assignment yang due datenya berdekatan dengan exam. Semoga bisa lebih focus belajar, ibadah, dan lancar untuk examnya nanti.

Kemarin Alhamdulillah sempet ngikut salah satu pengajian muslimah disini. Materinya menarik dan inspiratif dan sangat relate dengan salah satu jurnal yang aku baca, yg relate to developmental experience, The Power of Small Wins dari Steven J. Kramer.

Berangkat dari pertanyaan besar tentang sudahkah kita menjadi muslim yang jauh lebih baik setelah melewati puluhan Ramadhan? or have we ever notice? Seperti halnya performance di kantor yang butuh progress checklist, ibadah kita juga perlu itu. Dan seperti semua usaha untuk membuat tujuan bias tercapai, kita membutuhkan rencana. A detailed plan yang harus clearly stated, misal, Ramadhan ini kita ingin nambah ibadah Sunnah, khatam Al Qur’an, atau being more generous person.  Yang mencapainya harus didukung “resources”, “timeline”, “ideas/strategy” —) istilah manajemennya yang biasa disebut catalyst, yang berarti itu kesehatan fisik kita untuk puasa dan strategi memaksimalkan Ramadhan sebagai bulan Qur’an, ibadah Sunnah dan sedekah.

Meanwhile, kita harus bisa setting “positive climate” atau environment yang mendukung untuk tenang beribadah–) istilahnya nourisher. Memahami apa aja yang bisa slow down progress ibadah itu (inhibitor), mulai dari nafsu, kecenderungan buat procrastinating, pengaruh dari teman yang menghambar ibadah, nggak disiplin sama timeline. Dan tentu menghilangkan semua toxin (hal-hal berbau maksiat) yang bisa menjauhkan kita sama sekali dari tujuan ibadah.

th1R92I4Q5

(masjid Auburn Gallipoli Sydney)

Big effort ya? tapi seperti halnya developmental experiences yang menjadikan seorang manusia menjadi better person and better leader, plan dalam mempersiapkan Ramadhan dan berdisiplin menjalankan rencana itu, akan menjadikan kita better moslem. Esensi dari mengapa kita diberi waktu untuk berjumpa dengan bulan suci ini. Semoga saya, kita semua bisa menjalankannya..aamiiin

Happy Ramadhan, all 🙂

 

 

 

Posted in Uncategorized

Random thinking  during hard week (catatan emak kuliah)

Diantara semua hari selama di Sydney, hari ini terasa hari yang paling istimewa. Bukan apa-apa, hari ini akhirnya berhasil, dengan pujian, tidak mengecewakan bisa presentasi kelompok di salah satu hardest course di semester ini. Bersyukur banget sama Allah, bener-bener bersyukur, entah karena memang presentasinya bagus, atau moodnya tutorku lagi bagus, dia yang biasanya ngebantai, bahkan setiap kata2 kita yang salah, tadi nggak ngebantai logikaku.

Presentasi ini ada di tengah-tengah week 9 dan 10 yang keramat untuk semua anak UNSW, dimana semua tugas besar, quiz, homework mingguan, group assignment, presentasi menemui due datenya. Mungkin kalian bisa mikir, emang nggak bisa dicicil? Jawabannya adalah, ada yang bisa ada yang enggak dan banyak yang enggak. Karena tugas besar means ada compelling, analysis and statistics, which is time-consumed. Homework itu muncul setiap meeting dan means itung-itungan yang matematika banget (dan bagi yang matematikanya payah kaya aku, itu challenging and frustrating). Group assignment means membaca puluhan jurnal HBJ yang semakin bertambah minggu makin high context dan presentasi means menyampaikan berbagai kurva ekonomi makro yang jaman S1 dulu dosenku sering bolos dan nyuruh2 bikin summary reading tapi ga pernah dikumpul. Nggak heran kalau very bigggg effort to adjust with education standard here.

Entahlah apa hanya aku sendirian yang so stressful these 2 weeks. Arc (student organization yg membawahi semua eskul di unsw) cukup empathic dengan ngadaian acara stress relase week di Quadrangle (gedung business school), dengan bentuk bazar, bikin kolam-kolam bola, nyediain spot buat nyanyi2, capoera, dan aktivitas menyenangkan lainnya, sekedar untuk jadi spot anak-anak yang merasa ingin melepas lelah.

Tapi inilah konsekuensi sebuah pilihan. Harus dihadapi, dengan semua possibility. Sempat terbersit, kenapa harus studi sejauh ini, pushing my limit untuk sekedar bisa survive dengan sistem marking yang ketat. Kalau mencari ilmu, pengetahuan, pengalaman, sudah pasti. Tapi apa lagi alasannya?  Jawabannya, ternyata ada di mbak-mbak yang mendadak jadikan aku responden untuk survey dari fakultas psikologi tadi sore. Surveynya adalah tentang bagaimana menstimulus otak untuk memecahkan permasalahan yang kompleks dalam kondisi yang stres. Dan memberi survey di stress week memang cara yang cerdas menurutku. Seperti yang aku rasain, aku mengisi dengan jujur kalau aku stress di kolom-kolom kuesionernya. Terus dia menunjukkan aku video tentang anak-anak bayi yang tertawa yang bikin aku tertawa sekaligus pengen nangis karena ingat filo. Setelah itu dia nanya gimana perasaanku setelah melihat video dengan feedback kuesioner lagi. Kemudian memberi aku tes semacam game yang cukup kompleks untuk diselesaikan. Dan setelah itu dia ngasih feedback lagi dari berapa lama aku menyelesaikan game itu. She said that i did it very well. Padahal aku nggak pernah main gamenya, dan selalu payah main game. Dia bilang, dari waktu yang yang habiskan  untuk main game itu, dalam kondisi yang dikatakan stress, aku bisa menyelesaikan masalah yang kompleks dengan cepat.

Mungkin itu, ya itu, itu jawaban kenapa harus jauh-jauh sekolah disini. Karena semua tekanan kuliah  ini, akan bantu aku untuk menyelesaikan masalah kompleks dengan cepat. Sama seperti kita nggak tahu seberapa besar kemampuan komputer kecuali kita memaksanya melakukan multitasking. Sama seperti otak kita, kadang ketika stress krn overload kita merasa tidak tahu apa sesungguhnya pencapaian yang kita buat dari semua ini, selain menyelesaikan semuanya. Tapi, tanpa kita sadari, we reach our optimum. And we can reach more.

Talk about different topics. Humm, dalam kondisi seperti ini, musuh terbesar dalam menyelesaikan semua tugas ini adalah nafsu di dalam diri kita. Bagaimana bisa stay focus dan tidak membuang waktu, demi kesenangan semu. Ketika kita berpikir, kesepian itu menyedihkan, tenggelam dalam berbagai tugas sampai lupa makan, mandi, ga sempat tidur itu mengerikan, akhirnya escape ke aktivitas lain yang sesungguhnya tidak terlalu bermanfaat bisa menjadi kesenangan seperti belanja hal yang nggak butuh atau hang out atas nama refreshing. Tapi guilty feeling itu…nggak akan sepenuhnya hilang. Kadang kalau mau ndengerin kata hati, kita nggak bener-bener happy kok sehabis itu.

Refreshing itu memang perlu, tapi nggak juga dengan berlebihan. Bisa dengan meluangkan waktu untuk tidur beberapa menit atau jam, bersih-bersih kamar, makan sesuatu yang enak, atau ngaji. Kadang, dengan semua pressure ini, ibadah bisa jadi menurun drastis kualitasnya, bahkan kuantitasnya. Ini pengalaman pribadi juga. Dan itu sih yang buat merasa semakin sendirian ngadepin ini semua. Dan jatuhnya adalah stress.

Kadang, kalau merefleksi ke diri sendiri. Aku belum menentukan posisiku, apakah aku sudah bener-bener committed untuk menjalankan semua ibadah karena aku membutuhkannya, atau karena aku harus melakukannya karena mengerti esensinya. Itu sih yang membuat aku jadi “nggak jelas”, aku sepenuhnya paham kalau sedang ada di kondisi itu. Sadar juga kadang cuma iqra solusinya. Membaca, bertanya, mengerti, dan tidak ada more denial ketika sudah merasa memahami. Semoga, semoga selalu ada hati dan akal yang jernih untuk menentukan dimana aku seharusnya berada.

Posted in Uncategorized