Let’s enjoy Ramadhan

Hi there,

Akhirnya memang harus Ramadhan di rantau🙂. But it’s okay, new experience, right? new people and place may surprise you..so, semangat dong!.

Hari pertama tarawih pas Sydney lagi ada storm, jadi nggak berani keluar rumah karena banyak pohon-pohon tumbang. Sirene berbunyi dari pagi sampai malam..listrik sempat padam nyala tapi all is good. Disini warning systemnya juga baik, jadi sebelum ada cuaca buruk gini kita sudah diannounce sebelumnya, dengan perkiraan waktu bencana yang sangat jelas, jadi semua rencana juga lebih enak di reschedule.

Leganya, karena masuk puasa, semua kuliah sudah kelar. Semua assignment sudah kelar..tinggal belajar untuk final exam 2 minggu lagi. Ini kebetulan yang patut disyukuri banget, karena ada beberapa fakultas yang masih ada assignment yang due datenya berdekatan dengan exam. Semoga bisa lebih focus belajar, ibadah, dan lancar untuk examnya nanti.

Kemarin Alhamdulillah sempet ngikut salah satu pengajian muslimah disini. Materinya menarik dan inspiratif dan sangat relate dengan salah satu jurnal yang aku baca, yg relate to developmental experience, The Power of Small Wins dari Steven J. Kramer.

Berangkat dari pertanyaan besar tentang sudahkah kita menjadi muslim yang jauh lebih baik setelah melewati puluhan Ramadhan? or have we ever notice? Seperti halnya performance di kantor yang butuh progress checklist, ibadah kita juga perlu itu. Dan seperti semua usaha untuk membuat tujuan bias tercapai, kita membutuhkan rencana. A detailed plan yang harus clearly stated, misal, Ramadhan ini kita ingin nambah ibadah Sunnah, khatam Al Qur’an, atau being more generous person.  Yang mencapainya harus didukung “resources”, “timeline”, “ideas/strategy” —) istilah manajemennya yang biasa disebut catalyst, yang berarti itu kesehatan fisik kita untuk puasa dan strategi memaksimalkan Ramadhan sebagai bulan Qur’an, ibadah Sunnah dan sedekah.

Meanwhile, kita harus bisa setting “positive climate” atau environment yang mendukung untuk tenang beribadah–) istilahnya nourisher. Memahami apa aja yang bisa slow down progress ibadah itu (inhibitor), mulai dari nafsu, kecenderungan buat procrastinating, pengaruh dari teman yang menghambar ibadah, nggak disiplin sama timeline. Dan tentu menghilangkan semua toxin (hal-hal berbau maksiat) yang bisa menjauhkan kita sama sekali dari tujuan ibadah.

th1R92I4Q5

(masjid Auburn Gallipoli Sydney)

Big effort ya? tapi seperti halnya developmental experiences yang menjadikan seorang manusia menjadi better person and better leader, plan dalam mempersiapkan Ramadhan dan berdisiplin menjalankan rencana itu, akan menjadikan kita better moslem. Esensi dari mengapa kita diberi waktu untuk berjumpa dengan bulan suci ini. Semoga saya, kita semua bisa menjalankannya..aamiiin

Happy Ramadhan, all🙂

 

 

 

Posted in Uncategorized

Random thinking  during hard week (catatan emak kuliah)

Diantara semua hari selama di Sydney, hari ini terasa hari yang paling istimewa. Bukan apa-apa, hari ini akhirnya berhasil, dengan pujian, tidak mengecewakan bisa presentasi kelompok di salah satu hardest course di semester ini. Bersyukur banget sama Allah, bener-bener bersyukur, entah karena memang presentasinya bagus, atau moodnya tutorku lagi bagus, dia yang biasanya ngebantai, bahkan setiap kata2 kita yang salah, tadi nggak ngebantai logikaku.

Presentasi ini ada di tengah-tengah week 9 dan 10 yang keramat untuk semua anak UNSW, dimana semua tugas besar, quiz, homework mingguan, group assignment, presentasi menemui due datenya. Mungkin kalian bisa mikir, emang nggak bisa dicicil? Jawabannya adalah, ada yang bisa ada yang enggak dan banyak yang enggak. Karena tugas besar means ada compelling, analysis and statistics, which is time-consumed. Homework itu muncul setiap meeting dan means itung-itungan yang matematika banget (dan bagi yang matematikanya payah kaya aku, itu challenging and frustrating). Group assignment means membaca puluhan jurnal HBJ yang semakin bertambah minggu makin high context dan presentasi means menyampaikan berbagai kurva ekonomi makro yang jaman S1 dulu dosenku sering bolos dan nyuruh2 bikin summary reading tapi ga pernah dikumpul. Nggak heran kalau very bigggg effort to adjust with education standard here.

Entahlah apa hanya aku sendirian yang so stressful these 2 weeks. Arc (student organization yg membawahi semua eskul di unsw) cukup empathic dengan ngadaian acara stress relase week di Quadrangle (gedung business school), dengan bentuk bazar, bikin kolam-kolam bola, nyediain spot buat nyanyi2, capoera, dan aktivitas menyenangkan lainnya, sekedar untuk jadi spot anak-anak yang merasa ingin melepas lelah.

Tapi inilah konsekuensi sebuah pilihan. Harus dihadapi, dengan semua possibility. Sempat terbersit, kenapa harus studi sejauh ini, pushing my limit untuk sekedar bisa survive dengan sistem marking yang ketat. Kalau mencari ilmu, pengetahuan, pengalaman, sudah pasti. Tapi apa lagi alasannya?  Jawabannya, ternyata ada di mbak-mbak yang mendadak jadikan aku responden untuk survey dari fakultas psikologi tadi sore. Surveynya adalah tentang bagaimana menstimulus otak untuk memecahkan permasalahan yang kompleks dalam kondisi yang stres. Dan memberi survey di stress week memang cara yang cerdas menurutku. Seperti yang aku rasain, aku mengisi dengan jujur kalau aku stress di kolom-kolom kuesionernya. Terus dia menunjukkan aku video tentang anak-anak bayi yang tertawa yang bikin aku tertawa sekaligus pengen nangis karena ingat filo. Setelah itu dia nanya gimana perasaanku setelah melihat video dengan feedback kuesioner lagi. Kemudian memberi aku tes semacam game yang cukup kompleks untuk diselesaikan. Dan setelah itu dia ngasih feedback lagi dari berapa lama aku menyelesaikan game itu. She said that i did it very well. Padahal aku nggak pernah main gamenya, dan selalu payah main game. Dia bilang, dari waktu yang yang habiskan  untuk main game itu, dalam kondisi yang dikatakan stress, aku bisa menyelesaikan masalah yang kompleks dengan cepat.

Mungkin itu, ya itu, itu jawaban kenapa harus jauh-jauh sekolah disini. Karena semua tekanan kuliah  ini, akan bantu aku untuk menyelesaikan masalah kompleks dengan cepat. Sama seperti kita nggak tahu seberapa besar kemampuan komputer kecuali kita memaksanya melakukan multitasking. Sama seperti otak kita, kadang ketika stress krn overload kita merasa tidak tahu apa sesungguhnya pencapaian yang kita buat dari semua ini, selain menyelesaikan semuanya. Tapi, tanpa kita sadari, we reach our optimum. And we can reach more.

Talk about different topics. Humm, dalam kondisi seperti ini, musuh terbesar dalam menyelesaikan semua tugas ini adalah nafsu di dalam diri kita. Bagaimana bisa stay focus dan tidak membuang waktu, demi kesenangan semu. Ketika kita berpikir, kesepian itu menyedihkan, tenggelam dalam berbagai tugas sampai lupa makan, mandi, ga sempat tidur itu mengerikan, akhirnya escape ke aktivitas lain yang sesungguhnya tidak terlalu bermanfaat bisa menjadi kesenangan seperti belanja hal yang nggak butuh atau hang out atas nama refreshing. Tapi guilty feeling itu…nggak akan sepenuhnya hilang. Kadang kalau mau ndengerin kata hati, kita nggak bener-bener happy kok sehabis itu.

Refreshing itu memang perlu, tapi nggak juga dengan berlebihan. Bisa dengan meluangkan waktu untuk tidur beberapa menit atau jam, bersih-bersih kamar, makan sesuatu yang enak, atau ngaji. Kadang, dengan semua pressure ini, ibadah bisa jadi menurun drastis kualitasnya, bahkan kuantitasnya. Ini pengalaman pribadi juga. Dan itu sih yang buat merasa semakin sendirian ngadepin ini semua. Dan jatuhnya adalah stress.

Kadang, kalau merefleksi ke diri sendiri. Aku belum menentukan posisiku, apakah aku sudah bener-bener committed untuk menjalankan semua ibadah karena aku membutuhkannya, atau karena aku harus melakukannya karena mengerti esensinya. Itu sih yang membuat aku jadi “nggak jelas”, aku sepenuhnya paham kalau sedang ada di kondisi itu. Sadar juga kadang cuma iqra solusinya. Membaca, bertanya, mengerti, dan tidak ada more denial ketika sudah merasa memahami. Semoga, semoga selalu ada hati dan akal yang jernih untuk menentukan dimana aku seharusnya berada.

Posted in Uncategorized

Vibe and Harmony and Life in Between

Dua hari di Melbourne memang terlalu singkat untuk menceritakan how to live there. Tapi terkadang tidak tergantung waktu kita bisa mengenal sesuatu, tapi bagaimana cara kita mengenalnya.

Satu hal untuk anak kampung seperti aku ketika melakukan perjalanan intercity Australia adalah “keribetan” seperti perjalanan inter-state. Semua harus dipersiapkan karena bahkan sesama kota besar seperti Sydney dan Melbourne punya sistem sendiri, mulai housing, transportasi, akses ke bandara, sampai urusan makanan halal. Apalagi jika pergi sendiri, pasti sudah males banget awalnya. Belajar kadang berawal dari keterpaksaan juga sih :B.

Alhamdulillah mesti mepet, dengan berbekal ngontak temen, bisa dipertemuin sama teman dari Indonesia yang kamarnya available. Rumahnya sangat nyaman, nggak terlalu jauh dari meeting point di city. Akses juga nggak terlalu sulit karena rumah dekat trem station, dan karena jalan raya di melbourne besar, jalur tremnya ya di ruas tengah jalan raya itu. Agak kaget sih awalnya, pas tidur kaya tinggal di samping rel kereta api. Hehehe..cuma bedanya, berisiknya masih terkendali. Nah, karena entah akunya yang misunderstanding sama info di website atau memang infonya membingungkan, aku sengaja nggak beli smartcard Melbourne untuk akses transportasi yg namanya “myki”, karena dari website “opal”- smartcardnya Sydney, mereka semua bisa dipake di seluruh New South Wales (Sydney dan Melbourne masuk dalam negara bagian ini). Alhasil pas sampai di Tullemarine (airport Melb) pagi2 banget, aku nggak kepikiran beli “myki”. Karena saran housemate-ku memang lebih murah naksi dari airport, daripada naik bus oper trem lagi. Setelah sampai di rumah, dan feeling ga enak, baru deh setelah tanya lebih detail, naik transport sini harus pakai ini kartu. Once again, (lupa) bertanya sesat di jalan. Karena harus strict to schedule ketemuan, akses tercepat dari rumah ke State Library Victoria ya Uber. Dari sini ceritanya bermula.

12921023_10209445175191377_763941821_n.jpg

(State Library Victoria)

12910839_10209445694004347_1578653672_n

(Book Grocer, Beckett Street)

My brother who drive this Uber car is a moslem Lebanese. A father of 1 son and 2 daughter, a grandpa for 6 childs. Sudah jadi citizen karena hampir 30 tahun tinggal di Melbourne, beliau jadi imigran sejak berumur 16 tahun. Satu hal yang membedakan selama pakai jasa Uber adalah mereka selalu mengajakmu ngobrol. Mungkin karena mereka tidak semata sedang bekerja, tapi they like to meet new people and share their story about the place to visit. Banyak diantaranya yang sangat helpful dengan menjawab pertanyaan2 yang kadang tidak tersedia di Google. Dan hari itu, karena dua bulan lagi dia dan sekeluarga akan pergi ke Bali, dia banyak juga bertanya tentang Indonesia. Terutama tentang safetynya. Dari situ akhirnya perbincangan mengalir ke moslem life di Indonesia dan di Melbourne yang sepanjang sepengetahuan dia selama hidup disana sangat nice, bahkan jauh lebih aman, lebih harmonis social life dengan non-muslim dibandingkan di negaranya. Dari situ akhirnya perbincangan mengalir ke konflik Syiah Sunni, dan banyak aliran di Islam sendiri yang menurut dia nggak make sense. Disparitas ekonomi di Timur Tengah antar muslim yang seharusnya nggak terjadi, leader yang tamak dan serakah, dan banyak hal prinsip yang seharusnya lebih diperhatikan daripada saling membunuh karena perbedaan keyakinan. Kadang memang melelahkan berbicara masalah kemanusiaan kalau dilihat dari kacamata politik dan agama. Dan lebih menenangkan dan positif jika membahasnya dari sisi nature kita sebagai manusia pengasih yang sedari lahir fitroh itu sudah dititipkan oleh Allah. Karena kita tidak tahu benar salah menurut siapa yang sesungguhnya paling benar. Yang jelas bukan berdasarkan media.

Dia juga selalu mengingatkan look after yourself, karena hidup sendiri dan belajar disini. It must be hard (yes it is) but only with learn you will survive. Jadi inget bapak kalau gini, hiks. Perbincangan ditutup dengan permintaannya untuk menyimpan nomor selulernya, supaya kalau aku butuh apa-apa, aku bisa kontak dia. Permintaan yang lazim jika seorang driver taksi untuk menawarkan kembali jasanya. Dan saat itu memang aku langsung kepikiran untuk langsung memesan jasanya ketika ke airport untuk balik Sydney yang jadwal pesawatnya memang malam. Biar lebih aman maksudku.

Perjalanan ke city sangat menyenangkan. Melbourne sangat vibrant, sama seperti semua orang bilang. Landmark dimana-mana, polusi juga terkendali karena banyak sekali burung, dan berbagai sejenisnya yang hidup berdampingan dengan happy disini. Karena cuacanya agak dingin, tapi masih sunny, banyak banget orang berjemur, membaca, ngobrol, makan di taman-taman city. Setelah bertemu dan menyerahkan pekerjaan. Aku mau coba muter kompleks state library di Swanston Street dan sekitarnya. Nggak punya purpose harus pengen lihat ini itu sih. Just walk and see.

12899968_10209445180151501_1827079517_n

(RMIT University @ Swanston Street)

12900130_10209445178631463_1891126223_n.jpg
Memang sepertinya harus terbiasa sih dengan semua crowd ditambah trem yang rasanya “menuh-menuhin” view. Tapi karena semuanya teratur, masih terasa nyaman. Ditambah hiburan melihat Victorian building yang berdampingan dengan manis bersama gedung-gedung futuristik (yang entah fungsional atau nggak) tapi mungkin itu bisa disebut more civilized dan khas melbourne. Belum ada kesempatan untuk explore setiap tempat-tempat itu karena hanya melihat dan mengabadikan. Disimpan untuk suatu hari bisa explore kesana. Hari aku datang juga sedang ada semacam Comedy Festival (stand – up comedy sudah jadi urban culture disini) dan mural art, jadi banyak turis dari kota lain yang khusus datang ke sini. Kanan kiri musisi jalanan dengan gitar, saksofon, klarinet, disambut musik pop jenis lain di tempat yang berbeda membuat kita nggak merasa sedang jalan sendiri. Perjalanan disudahi karena mulai mengantuk dan tidak sedang ingin menikmati kopi karena habis telat sarapan, aku balik ke housing untuk istirahat dan membenahi hasil bahasan kerjaan tadi.

Besoknya, karena pesawat berangkat malam. Aku bertemu dengan teman sesama LPDP yang sedang kuliah di RMIT dan Unimelb di Melbourne Central Shopping Center. Seru banget bisa kangen-kangenan dan ngobrol banyak seputar kuliah, about how we handle the barriers..:D. Sampai akhirnya karena agenda masing-masing, kami berpisah. Dan karena masih sekitar 5 jam lagi menuju boarding. Aku putuskan jalan ke Yarra River yang legendaris itu. Cukup berjalan lurus ke arah Flinders Station sekitar 2 km dari Melbourne Central sudah ketemu Yarra River dan Fed Square yang jadi jantung street art di Melbourne. Sayang karena overcrowded aku memilih nggak explore Fed Square tapi ke Yarra River yang lebih tenang buat orang uzur kaya aku ini. So peaceful and reflective. Di sini aku banyak berpikir tentang kuliah, tentang keluarga dan bagaimana yang harus men-treatment semuanya dengan sama baiknya. Open fearness that block my mind. Just think and plan, and let the rest to Allah is my deed.

12919085_10209445165831143_1583810154_n.jpg

(Yarra River)

12910466_10209445690084249_647197029_n.jpg

12910654_10209445688084199_275602948_n.jpg

12921138_10209445165311130_1077478829_n.jpgSt. Paul Cathedral @ Flinders Street

Hari sudah sore ketika balik ke housing. Dan menunggu jemputan Uber sambil ngobrol dengan teman penerima AAS yang sedang pursue PhD. Banyak perbincangan menarik seputar bagaimana membuat riset yang aplikatif di Indonesia. Bagaimana perjuangannya selama 2 tahun terakhir untuk belajar jadi researcher dan mengaplikasikannya dengan sistem di Indonesia yang sesungguhnya sudah ada, tapi tidak dioptimalkan, bahkan cuma dijadikan pajangan. hehe..Bukan semata ingin merealisasikan risetnya dengan credit baik, tapi perjuangan keras itu mencerminkan semangat untuk membuat Indonesia lebih baik. Beliau mengambil jurusan Science, konsentrasi Statistik, yang fokus risetnya tentang modelling yg aplikatif untuk mengantisipasi angka kematian dan kecacatan bayi dengan untrasonografi, ingin diaplikasikan di Kalsel yang memang membutuhkan. Ternyata banyak variabel yang harus diconsider untuk mengetahui tumbuh kembang bayi sampai dia lahir. Karena pasien tidak tahu, cuma tahunya di USG, diukur2, tanpa questioning what all those means. Ahli kesehatannya juga banyak yang tidak menganggap itu penting, karena banyak alasan yang tidak acceptable.Dan banyak hal lain seputar riset yang insya Allah nantinya akan berguna ketika dibagi ke teman-teman di Sydney.

Brother Uber sudah datang tepat jam 7 malam dan dia menanyakan bagaimana hariku. Menyenangkan seperti biasa berbicang dengan beliau. Dengan sikapnya yang ramah dan positif, membuat obrolan ingin disambung lagi suatu hari nanti. Dan yang membuat terharu, ketika sampai di airport, dia nggak mau dibayar…

Alhamdulillah, Subhanallah.

Posted in Uncategorized

A Genuine Awardee

Suatu hari, seorang teman memposting tentang kekecewaan sekaligus “keikhlasan”nya menerima sebuah surat penerimaan beasiswa pemerintah dengan “term and condition” yang memupuskan harapannya. Si applicant beasiswa ini ingin bersekolah di universitas luar negeri, dan versi statusnya di medsos, dia sudah mendapat LoA disana, namun, oleh pemberi beasiswa, dia harus mengubah tujuan universitasnya menjadi dalam negeri, jika ingin diterima. Intinya, apa yang dia harapkan, impiannya bersekolah ke luar negeri  tidak tercapai, dan dia dengan halus menyalahkan sistem yang menghalanginya. Karena detail proses seleksi beasiswa yang confidential, ketika melihat statement-nya, saya nggak bisa menilai dengan cover both sides, apakah pernyataannya benar atau tidak , kita harus paham menurut versi pihak pemberi beasiswa juga bagaimana. Tapi menurut saya, sebuah pertimbangan dan alasan besar hadir dibalik pemindahan tujuan universitas dari luar negeri ke universitas dalam negeri, terutama bagi kepentingan si pemberi beasiswa. Siapa? Rakyat Indonesia.

Satu hal yang seringkali kita lupa, menjadi penerima beasiswa pemerintah, berarti kita sedang  mengemban amanah negara, in short, kebutuhan rakyat Indonesia. Tidak perlu kita ribut memikirkan siapa yang memegang kendali urusan negara, seribut dan seefisien apa corporate governancenya, ketika kita sepakat masuk ke dalam sistemnya sebagai pihak di luar sistem namun mendapatkan manfaatnya, kita lakukan tanggung jawab kita. Kalau kita tidak cocok dengan sistemnya, kita akan dengan tanpa penyesalahan dan complaining, will be stepping out from the system. Hypocrite memang jika setiap manusia tidak punya personal interest dalam setiap visi misinya di berlembar-lembar personal statement. Tapi, prioritas pemenuhannya, kepentingan negara setelah kepentingan pribadi, atau malah sebaliknya, yang harus direnungkan. Apakah benar, kita, abdi negara yang harus belajar ini benar-benar ingin membangun negara? Berapa ratus orang Indonesia yang akan mendapat manfaat dari kita?  Di sektor apa nanti kita akan berkiprah dan dalam bentuk apa? Berapa “return on investment” yang bisa kita kembalikan ke negara?. Dua ribu empat puluh lima hanya tinggal 29 tahun lagi, apa hal konkret yang bisa kita berikan ke negara ketika kita sibuk memikirkan ambisi pribadi dibandingkan kewajiban yang seharusnya kita lakukan?. Apakah benar sepulang belajar kita akan berkiprah dan memperbaiki sistem atau malah mengamankan peluang menjadi permanent resident di negara tempat kita studi, entah dengan alasan “atas nama negara” yang dibuat-buat lagi. Bagi penerima beasiwa, sudah jamak diketahui jika beberapa oknum penerima beasiswa tidak memanfaatkan kesempatan menjadi abdi negara ini dengan sebaik-baiknya, misal, dengan menyia-yiakan kesempatan pelatihan bahasa yang mahal atau nilai dan kelulusan yang underperformed, beberapa malah adalah putra-putra daerah yang sangat diharapkan bisa membawa perubahan bagi daerahnya. Bukan dengan pergunjingan terhadap sistem seleksi atau maklum atas  hierarchy of needs orang Indonesia, kita menilai hal tersebut. Tapi mengambil hikmah dari kasus-kasus tersebut dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri, “How about me?”

Memang benar kawan, siapa yang tidak ingin berkuliah di negara maju, dengan pendidikan yang berkualitas, lingkungan dan teknologi tertata yang mengatur seluruh kehidupan. Menikmati fasilitas luar biasa untuk pengembangan intelektual dan soft skills. Tapi mengusahakannya juga harus dibayar dengan kerja keras bahkan melintasi self-limit dan mengorbankan kebahagiaan pribadi yang kita punya. Tapi karena kita adalah “intellectual army” then we just bring our best of us to dealing with. we can’t complain right? Butuh sekedar intelektual untuk ada disini, tapi kemampuan menyelesaikan masalah sendiri dengan tanggung jawab. Bukankah complain di medsos tentang masalahmu menunjukkan ada tanggung jawab yang belum kita selesaikan. What we expect from that? Complaining something that you can’t change is not a productive communication. Seperti tentara yang nggak mungkin complain ketika ditugaskan menjadi pasukan perdamaian, atau mengeluhkan cuaca yang tidak mungkin kita ubah. If you can’t solve your own problem, how do you solve people’s problem? It is the right time to stop complaining, blamming and gossiping in social media.

Meanwhile,  penting bagi kita untuk paham, bahwa keberadaan kita di universitas luar negeri belum bisa disebut pencapaian seluruh rakyat Indonesia. Berapa banyak masyarakat Indonesia yang peduli? Bagaimana membuat kemenangan kita juga kemenangan mereka? Karena bahkan kebanyakan rakyat Indonesia lebih peduli dengan apa yang harus dimakan besok kok daripada ngurusin siapa yang akan sekolah ke luar negeri. Kita bisa bilang, saya lulusan univ 20 besar dunia dengan expertise A, B, C. Tapi rakyat di tempatmu nggak butuh itu kok, butuhnya bagaimana keahlianmu itu bisa bantu mereka dapat air bersih, berangkat sekolah nggak lewat jembatan reyot, naik bus sekolah dan dapat buku gratis. Itulah kenapa alasan terbesar kita menjadi abdi negara beasiswa pemerintah adalah melihat apa yang dibutuhkan negara (melalui plotting beasiswa pemerintah ke tujuan univ DN/LN) dan menjalani kemanapun tempat belajar yang kita tuju. Percayalah dengan peran talent management dalam setiap lembaga pemerintah pemberi beasiswa. Saya yakin mereka punya data “investasi” abdi negara yang sedang menimba ilmu di luar negeri/dalam negeri, kapan mereka semai dan untuk apa, dan awardee dengan expertise seperti apa lagi yang sedang dibutuhkan negara?. Negara ini tidak hanya butuh orang-orang pintar kawan, negara ini butuh orang-orang tangguh yang peka dengan masalah dan sanggup menjalankan kewajiban sebagai abdi negara dengan niat tulus.

Tulisan hanya curahan renungan selama dua minggu terakhir melihat fenomena ini-itu. Berharap tidak judmental dan merasa paling benar. Hanya berharap jadi refleksi bagi siapapun yang membacanya.

Posted in Uncategorized

Sydney, here I come

tthis is my late post, actually.. Tapi daripada cuma disimpan di laptop dan ingin membaginya, (maybe) bisa jadi guidance buat teman-teman yang ingin melanjutkan sekolah di luar negeri, terutama Australia, akhirnya di-post juga.

Alhamdulillah setelah kurang lebih 8 tahun menunggu dan berproses, akhirnya bisa nurutin mimpi sekolah di luar negeri. Alhamdulillah juga ketrima di salah satu business school terbaik di dunia, AGSM UNSW, 19th world rank versi QS, Most Hired University Graduate versi Linkedin, second best business school in Australia. Boleh lah ngepromoin kampus sendiri..

Perjalanan ke Sydney buat aku tidak mudah. Karena harus menjalani defer 8 bulan karena hasil medical check ku yang tidak bagus menurut embassy Australia. Sayangnya hasilnya dikonfirmasi cukup lama dan sembari menunggu itu aku udah mempersiapkan semua mulai dari tiket pesawat sampai akomodasi disana karena  keberangkatan yg mepet dengan intake. Dari proses persiapan keberangkatan (PK) LPDP sampai berangkat jaraknya cuma 3 bulan kurang. Sedih banget waktu dengar hasilnya nggak bagus, berarti semuanya tercancel, dan otomatis terkena charge tiketnya. Tapi aku nggak mau berlama-lama dengan itu. Karena aku merasa mendapatkan amanah dari negara, aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Setelah meminta ijin untuk defer ke LPDP (my sponsorship) dan diijinkan, aku menjalani semua proses yang diminta oleh embassy untuk mendapatkan visa. Hikmahnya disini,  misal teman-teman sudah mendapatkan sponsor/ belum dan mulai mendaftar di bulan Januari, lebih baik memilih intake bulan Septembernya (kalau Europe) atau bulan Juli (kalau Australia). Untuk ngasih waktu kalian at least 6 bulan, untuk mendapatkan sponsor, dan ngasih waktu untuk pengurusan visa, dsb. Jangan terburu-buru. In my case, alasan terburu-buruku adalah karena umur, jujur, merasa nggak pede dengan fisik dan kemampuan intelektual yang (maybe) tidak setajam dulu (ceilah). Tapi rupanya Allah juga memberikan waktu lebih lama dengan anak untuk mempersiapkan dia masuk TK juga, jadi aku merasa sangat bersyukur. Nggak sedih sedih lagi dan tetap semangat.

the placequadrangle

(pics: business school sama quadrangle (tempat kuliahnya)

Jujur karena belum pernah pergi sejauh ini aku jadi nggak well prepared. Bukannya nggak mempersiapkan apa yang penting. Tapi aku sebisa mungkin bawa yg bener-bener penting. Sampai akhirnya ga punya precaution yg baik pas menyiapkan barang2 yang (ternyata) bakal aku butuhin. Diantara semua teman yang berangkat barengan, cuma aku yang bawa 1 koper ukuran paling besar dan 1 ransel. Semua keperluan buat belajar all were in. Tapi macem pakaian, sepatu,  obat-obatan, beberapa seasonings, makanan, masih kurang lengkap dibandingkan teman-teman. Aku cuma bawa sepatu 2, dan hari ke-3 ke kampus, sepatuku sudah jebol 1 ^-^!. UNSW kampusnya macem bukit gitu, dengan tangga ratusan yang luar biasa melelahkan. Kayanya kalo ditotal mondar-mandir setiap hari bisa 10 km/hari. Memang sih, serunya di Sydney, kita nggak akan sulit cari ukuran sepatu kita di mall karena Sydney yang diverse etniknya, ada aja sepatu ukuran 6 (equal with 36) di K-Mart atau Westfield di East Garden. Tapi ya lumayan gitu harganya 15 dollar. Belum ngebisnya PP 6 dollar. Itulah kenapa mending prepare dari Indonesia, bawanya agak menderita, tapi nggak beli-beli di Sydneynya.

stairstair2

(pics: tangga kesatu, tangga ketiga..and many more stairs above…:)

Tentang obat-obatan. Satu hal yang harus kita tahu, daerah subtropis macam Australia ternyata tempat favoritnya virus. Karena itu setiap winter, kita disarankan untuk vaksin anti-flu. Awalnya, karena nggak well-informed, aku bawa obat-obatan seadanya tanpa antibiotik dan anti-radang yang prescripted karena takut pas diperiksa imigrasi bakal dibuang. Ternyata asal declare ya lolos-lolos aja..Nyeselnya karena hari ke-3 disini aku terserang flu, dimana dari ceritanya orang2 Indo disini, virus disini bisa betah sampai 10 hari di badan. Semua obat dari indo udah habis, flu belum sembuh, batuknya itu yang menyiksa banget. Kalau habis naik turun tangga, dari Lower Campus ke Upper Campus, ke Lower Campus lagi..kadang sampai muntah-muntah gitu di kamar mandi. Hikmah berikutnya adalah…dont forget to exercise.

Satu hal yang harus diinget lagi adalah pola makan. Pola makan kita Indonesia memang harus disesuaikan dengan aktivitas kita disini. Karena benar-benar fisik, otak, ada hubungannya jelas sama makanan yang kita konsumsi. Kalau yg nggak biasa minum susu, makan ayam/daging, yang berlemak, sepertinya harus mulai mengonsumsi itu. Setelah menganalisa badan sendiri, yang buat aku mudah sakit karena asupan makananku yang kurang kalori dan gizinya. Demi ngirit, cuma makan nasi sama kering tempe dari Indonesia. Ditambahin sayur, Ikan, tempe. Ternyata itu masih kurang. Kita harus minum madu, susu, kadang-kadang sesuatu yg ada lemaknya. Biar badan kita hangat dan berenergi. Sydney memang panas, tapi sangat windy saat sore. Buat yang punya alergi macam aku, asupan makanan yg cukup itu sangat penting. Kalau nggak sempat masak, at least bawa nasi dari rumah, beli lauknya di kampus. Untuk makanan, memang mahal sih Sydney, mahal banget. Tapi memang porsinya besar (krn pertimbangan asupan energi yg dibutuhkan tadi mungkin ya), jadi kalaiu buat orang Indonesia, itu bisa 2 kali makan, kita siapkan container/meal box dari rumah buat bawa sisanya, sudah biasa kok disini.

Self Service. Semuanya disini self service, seperti rata-rata di negara maju. Hampir ga nemu security ada di setiap building macam kampus kita yang bisa ditanya-tanya kalo kita tersesat atau butuh sesuatu. Join di event seperti orientation week, keep update dengan info di website kampus, adalah satu2nya cara untuk paham dengan seisi kampus plus semua aktivitas dan tuntutan akademis di dalamnya. Kita nggak bisa mengandalkan para senior yang tidak bisa menemani kita terus dan mandu kita ini itu. mereka juga punya urusan yang harus dikerjakan. Jadi kitanya yang memang harus proaktif nanya, atau cari tahu lewat website kampus yang serba lengkap. Malas karena kosan jauh atau masih malu2 berinteraksi sama native harus benar-benar disingkirkan. We never learn if we never push ourselves to learn. Banyak app yang disarankan untuk diinstall di mobile phone kita. seperti Lost on Campus, Prayer (untuk waktu sholat), Stay Safe (untuk panic button kalau ada bahaya), atau Google Map. Aku bersyukur karena punya roommate penulis yang aktivitasnya memang interview obyek tulisannya di banyak tempat. Dari hari pertama sampai, masih jet lag dan luar biasa lelah, udah ngebis dari airport untuk nyoba pake Opal Card untuk semua public transportation disini. Hampir semua fasilitas kampus juga self service, termasuk library. Itulah gunanya datang minimal seminggu sebelum intake untuk join orientation week atau sekedar melihat-lihat lingkungan kampus. For whatever reason, jangan mepet dan terburu-buru ketika mempersiapkan studi.

Kalau kalian tinggal di around kampus, seperti randwick, daerah baker street, forsyth street, meek street, anzac parade, kita sangat terbantu dengan toko2 yang jual bahan makanan Asia, dan resto-resto halal seperti Ayam Goreng 99, Restoran Sedap Rasa, dsb. Kalau mau agak jauh dikit, ada butcher lengkap milik orang Indonesia di Maroubra. Toko2, klinik dokter, supermarket, sampai bus stop juga ada di anzac parade. Jadi memudahkan akses. Bersyukur juga dapat housing di daerah itu (hikmah lainnya). On campus juga ada beberapa tempat yg halal, seperti Mamak Village, Jewel India dan beberapa pilihan menu makanan Turki. Itu berkahnya diversity ya..memberi lebih banyak pilihan dan kemudahan.

Turn to academic preparation topics..Sebenarnya aku yakin, semua yang sudah keterima sekolah di luar negeri punya bekal sendiri untuk pursue their academic target. Itu sih yang selalu aku kuatkan dalam hatiku. Dalam banyak hal mungkin kita tertinggal. Sudah lama juga nggak buka buku. Tapi tentang pengalaman hidup dan aktivitas usaha, aku yakin semua orang punya kelebihan, termasuk diri kita sendiri. Aku berusaha untuk ikut semua workshop international student, dari yang nggak terlalu penting sampai penting, karena aku butuh adaptasi untuk mingle. Memahami apa yang mereka ( semua ras di dunia) suka dalam setiap obrolan, engaging for cultural understanding. Kadang mendapat sambutan baik, kadang tidak. Karena kita yang kadang nggak tahu maksud omongannya, logat yang tidak biasa, sengau yang bercampur dengan bahasa asalnya.  Tapi anehnya, cara bertutur orang Indonesia masih bisa dipahami sama hampir semua etnis yang aku ajak ngobrol. Mulai dari ngobrol sama teman dari Swiss, Denmark, China, Jepang, Australia. Meski kita sekali lagi sering bermasalah dengan vocabulary. Banyak program dari Learning Centre yang bisa kita ambil, mulai dari belajar bahasa sampai language exchange. Fakultas Arts biasanya juga program2 menarik seperti language enhancement yang bermanfaat banget buat kita yang merasa butuh improve bahasa inggris.

Untuk perkuliahan, semua mata kuliah sudah ada course outlinenya. Jadi kita tinggal akses, dibaca, atau diprint, dan dipelajari untuk diikuti semua instruksinya. Dari yang gaptek, terpaksa harus belajar cari tahu atau minimal nanya (tapi jangan kebanyakan) untuk bisa ngikutin semuanya. Hampir semuanya hal baru dan bener bener baru. Tapi yah..dijalani saja. Harus punya banyak teman juga buat share dan ngasih solusi masalah. Catatan terpenting ketika sekolah di business school adalah dont work alone, but do it if possible. Nggak terlalu depend ke teman, tapi juga ngerti kapan saatnya kerja sama. Karena ketika di kelas, aktivitas anak BS ya memang diskusi, case analysis sampai mecahin rumus.

Well, mungkin itu sedikit tips dari ibu..nanti kapan kita sambung lagi ya..pas lagi stuck sama kuliah atau karena memang ini satu-satunya hiburan yang murah..hihihi…

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized

Childhood Reunion

One day there was an invitation to join WhatsApp group from elementary school’s friends. Quiet surprising and very glad to join!. It has been 19 years not being in touched though some of us were connected by Facebook. Just a minute after created, that group contains very interesting talks, not just hai-howareyou group, but talking likes old classmates about random personal. We have turned to be different person (outlook), with different work, with families and kids, but our past memories never set us apart. We can easily freely talk and joke about it; our traditional game and silly imaginative game we created are included, of course with a bit our puberty story and laughed on every part of it. Thanks to no cellphone at that time so we could have many experiences, made us socializing, something uncommon for children this time.

Thanks to my very kind friend, a funny charming boy in the past, very busy person indeed, Inul, who weave this friendship in WhatsApp. No wonder he can do this almost impossible “project”🙂. We can clearly see who is the most eligible to be our chairman in alumnee organization, then.

It is uncommon and something easily to forget, our teacher and friends at elementary school. Though they have important roles in shaping our character and building motivation of learning. it was the ages when we were  in a long path to find ourselves, do not have priority and purposes of life, but that’s the most pleasing part. We were brave and curious, tried many things, learned from consequences, until unimagined real life does exist. I blessed, i said i am blessed, i knew about study competition in very small scale at this school, the most reason to had a happy childhood at that time🙂.

But the remembrance is also about bullying story. I remember, there were many of it, intentionally or not, for revenge or fun, physically or academically ever happened in our childhood at elementary school. Perhaps it wounded, especially if that matter made some people totally changed (either bad/good for ther soul). Wish it already healed as everyone consent to the group🙂.

Last, I am glad and happy has found my old friends, starting new relationship as my sister and brother in the future.

How I love my childhood ^-^.

12084226_10208096815323223_1153044247_n

Posted in Uncategorized

Forestpark

Suatu hari si kecil meminta untuk pergi ke taman seusai sekolah, karena sudah lama dia tidak ke taman, ingin bermain pasir, melihat air mancur, pohon dan memanjat mainan kesukaannya. Kebetulan hari itu dia baru kubelikan pistol air baru juga (tumben) karena walau dia jenis yg tidak suka meminta mainan, tapi biar ada suasana permainan baru di rumah, aku belikan saja. Semakin semangatlah dia membawanya ke taman untuk dibuat bermain air.

Jujur saja, setelah punya anak, aku baru sadar, betapa membosankannya belajar/ beraktivitas di dalam ruangan, meskipun setiap hari selalu ada pelajaran/ pengalaman baru. Bertahun2 bersekolah dan menganggapnya as a routine and obligation, membuat lupa kalau kita semua punya pilihan untuk mencari “sekolah” lain yg juga inspiratif. Alam, udara segar, orang2 baru, tempat yang baru dan cara pandang baru. Walaupun jika semua itu tidak sepenuhnya organik tapi dibuat oleh manusia, seperti halnya sebuah taman kota, “tempat” tersebut sangat berharga sebagai sebuah “sekolah” yg melengkapi keterbatasan sekolah formal.

Bayangkan satu kelas dengan 20 anak, 2 guru dan ruangan yg tidak lebih dari 100m2. How they all can satisfy their creativity and imagination? But we don’t have enough land to build more spacious learning facilities or school. Thats why parents in indonesia still need playground and park to fulfill their children’s need.

Wajar kemudian ibu2 menjadi reaktif dan tidak sadar ketika dijadikan “tameng” pemerintah untuk menolak demo atas alih fungsi hutan kota menjadi taman.Karena jutaan anak-anak memang masih membutuhkan lebih banyak taman. Hanya, ibu2 tidak sadar, bukan hutan yg ditamankan, tapi SPBU, ruko2, bangli2, mall2 yang bisa dijadikan taman. Mungkin ibu2 pikir itu tidak mungkin, tapi itu mungkin, Surabaya contohnya, walikotanya bisa sehebat itu menggusur SPBU untuk dijadikan taman.

Desakan untuk kebutuhan rekreasi publik itu juga bisa diperkuat dengan kebutuhan kita, para dewasa orang tua yang membutuhkan tempat berefleksi, bersantai dan berolahraga. Betapa mungkin itu hak publik mendasar untuk jadi tolak ukur kesejahteraan jiwa rakyat. Sulit memang jika dua belah pihak yg sama2 benar, para ibu2 dan aktivis lingkungan tidak sevisi, apalagi saling mengolok karena keyakinannya sendiri. Perubahan kebijakan tata ruang memang membutuhkan desakan people power, jika political will memang belum ada. Dan harus dengan strategi penuh tahapan yg aku yakin para perumus kebijakan dan perwakilan dari rakyat tahu itu.

Dan tentang hutan kota terakhir sebagai resapan itu, aku lebih setuju jika tetap menjadi hutan. Jika pemerintah sanggup membuka lahan2 baru, akan lebih baik jika konsepnya seperti forestpark, sebagai lahan resapan juga, tempat rekreasi juga. Sayang jika miliaran rupiah hanya jadi taman. Pemerintah harus kreatif memaksimalkan fungsi open and natural space tadi.Forest park st.Louis di States bisa jadi contohnya, and many more.Well, ujung2nya sebuah forestpark yang fungsional dan indah juga pasti jadi signature yg menarik wisatawan juga.

Last, let’s enjoy summer breeze with our kids at park, moomies..

12047614_10208074214398214_1227087878_n12067395_10208074216118257_1094032826_n12092322_10208074216638270_1988538486_n (1)

Posted in Uncategorized