Ibu

salah satu alasan mengapa saya memutuskan untuk menikah muda adalah ingin menjadi ibu. itu saja. ketika saat ini bergumul dengan akhir masa studi dan tanpa disangka mengandung, juga salah satu keinginan yang terpendam beberapa bulan belakangan. karena ingin menikmati pengalaman itu kembali, karena ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahan ketika menjadi ibu baru.

Sedari kecil pemandangan terindah adalah melihat bagaimana ibu mengasuh adik-adik saya penuh cinta dan tanpa lelah. tidak peduli ketika sempat merasa terasing dengan kasih sayang yang terbagi dan waktu yang tidak pernah cukup untuk bercerita tentang apa yang kulalui setiap hari, karena bayi, makhluk suci menggemaskan itu bisa merebut hati yang paling iri sekalipun. dan ayah..juga selalu hadir meramaikan kekosongan hati dengan perbuatan bijaknya. membuatmu berangan..sejarah itu pasti berulang dalam hidupmu. membuatmu berangan..menjadi ibu adalah keindahan sekaligus tantangan yang membuktikan jati dirimu sebagai perempuan sejati.

namun kadang membuatmu lupa, bahwa menjadi ibu, bukanlah karena itu adalah tujuan akhir dari semua petualanganmu, bukan juga indikator kamu telah mencapai ultimate position in your life, bukan juga tergantung seberapa banyak resources dan capabilities menjadi ibu yang kamu miliki, bukan juga karena kamu tidak punya pilihan karena bayi lahir dari keinginan dua manusia, tapi tergantung apakah kamu benar-benar menginginkannya. dan hal itu..hanya hati setiap perempuan dan Allah yang Maha mengetahuinya..bukan dari perempuan atau ibu-ibu lainnya, yang mungkin bahkan tidak pernah mempertanyakan kepada dirinya sendiri, kenapa dia menginginkan seorang anak; yang tenggelam dalam keyakinan bahwa anak adalah rezeki namun sering alpa bagaimana mensyukurinya dengan membesarkan anak tanpa visi, yang lebih parahnya, hobi melabeli perempuan atau ibu lain dengan pikiran sempitnya. sebagaimana mereka lupa, apa alasan mereka mempunyai anak, mereka juga lupa, apapun yang bersemayam dalam hati, hanya Allah yang tahu.

Menjadi ibu, selalu menjadi pengalaman yang paling personal dan unik, karena seorang ibu, dibesarkan oleh keluarga dan ibu dengan budaya, etos dan orientasi hidup yang berbeda. Hal itu sulit terlepas dalam proses menjadi ibu dan menjadi ibu seperti apa untuk anak-anaknya. saya lahir di keluarga pekerja yang mengutamakan pendidikan dan kerja keras untuk mencapai target-target hidup. menyeimbangkan urusan duniawi dan ukhrowi meski tidak mudah. kami bertiga diajarkan untuk wajib memasak dan memperhatikan setiap detail untuk anak meski kami luar biasa sibuk. Karena Ibu kami bukan hanya wanita karir yang workaholic, tapi juga perempuan yang sangat tangguh dalam urusan rumah tangga. Beliau perfeksionis dan tegas. kadang saya sebagai yang tertua, merasa tidak pernah mengenal ibu dengan baik. tapi seiring berjalanannya waktu, ketika ibu ada disamping kita di saat-saat terberat dalam hidup, kami bisa merasakan, cintanya bisa mewujud dalam berbagai bentuk. yang juga terus membuatnya bertransformasi menjadi manusia yang baru, meninggalkan egonya, mengubah self limitnya, dan meluaskan visinya. tidak peduli kita anaknya, atau manusia lain bisa memahaminya atau tidak, karena sekali lagi hanya Allah yang perlu tahu.

menjadi perempuan dan Ibu, di budaya patriarki yang kental, tidak pernah mudah. bagaimana tuntutan bercampur aduk dengan irasionalitas dan ketakutan bentukan budaya atas pilihan-pilihan yang kita ambil untuk anak kita. seolah semua orang lupa, siapa yang memahami makhluk kecil itu ketika masih di dalam perut kita. apa rahasia yang kita bagi bersama dan bagaimana perjuangan itu telah dimenangkan bersama. tidak heran, anak kecil lugu itulah yang paling mengerti arti senyum dan airmata kita. tangan mungilnya yang mengusap dingin wajah kita dan memberi kekuatan untuk terus menjaga visi untuknya. Selama tinggal di Sydney, meski tidak pernah mengenal dengan dekat banyak keluarga dalam prinsip kesetaraan versi mereka, namun sering berbagi momen yang sama karena bertetangga, saya melihat banyak perbedaan yang membuatmu merasa ingin mempertanyakan kembali, bagaimana sebuah keluarga sesungguhnya menginginkan seorang anak lahir ke dunia. bagaimana anak bukan lahir dari hanya keinginan seorang ibu, bukan sesuatu yang muncul tanpa rencana, dan bukan tumbuhan perdu yang tumbuh tanpa dirawat manusia (karena bahkan Allah yang merawatnya!). anak wajib dicintai oleh kedua orang tuanya, sama besarnya. seorang perempuan menjadi seorang ibu, seorang laki-laki menjadi seorang ayah, karena dicintai sama besarnya oleh pasangan dan anak-anaknya. dan cinta, adalah sesuatu hal yang tanpa lelah untuk dipelajari di luar bentukan budaya, etos, kebiasaan yang sudah diyakini lama dalam diri kita. satu hal yang mustahil namun bisa dilakukan jika kita mau. Bukan waktu yang membuat segala sesuatunya mudah berlalu, bukan kesibukan yang membuat kita tidak mau terus berubah, namun karena keengganan untuk berefleksi..mempertanyakan kembali, dulu saya ingin menjadi ibu seperti apa, saat ini sudah menjadi apa, dan apa yang bisa dicapai keesokan harinya. Ibu bagi sebagian orang mungkin sebuah keharusan, tapi ibu adalah profesi yang punya standar profesionalitas yang bertumpu pada keinginan terus belajar.

Tetaplah jadi calon ibu dan ibu yang tangguh..belajarlah dari banyak hal. dari agama, dari buku ilmiah, dari buku psikologi, dari experience, dari pengenalanmu atas karakter anakmu, dan temukan irisan disana. We may not be a perfect mother, but at least we are keep learning to be.

 

 

Posted in Uncategorized

inseende

People stares, people judge

For me with colour, for you with white.

Mind not them, keeps talk

you find peace, I feel free.

redeems fear,

answers prejudice.

believe in peace,

act the most real deeds.

 

 

 

Posted in Uncategorized

(only) a morning rhyme

jika boleh, penantian ini akan kujadikan sebuah buku. Yang dengan runut menjelaskan awal dan akhir. Yang memetakan setiap langkah yang benar dan sesat. Sehingga kita bisa menemukan jalan termudah untuk pulang. Yang untukmu adalah perjalanan kembali, dan untukku adalah perjalanan menuju.  Mungkin karena Waktu kadang mengungkap segalanya, membuat mengerti karena dibagi bersama. Tapi waktu kadang tidak memberi jeda, ketika berpuluh kepentingan mendesak kita keluar dari tujuan awal, mencerabut kita dari proses mengenal.

pagi berganti malam. Hari berganti bulan. Semakin menjauhkan kita mengenal tantangan yang nyata. Sebuah jarak.

mungkin aku terlalu dungu untuk mengerti. Tapi sulit membuatku melihat dengan jarak ini. Ketika Tidak boleh semua kata dibagi. Tidak boleh semua rasa tergelap diungkap. Tidak boleh dan tidak boleh yang memerangkap. Maaf menindih sedih. Maaf menindih jarak.

hingga waktu sekali lagi memberikan kejutan dan dengan ajaib melebarkan jarak maya. Yang sesungguhnya bisa kita dobrak jika kita ingin, tapi bagaimana jika salah satu dari kita tak ingin? Sementara hari semakin gelap dan dingin. Dan selimut tertebalpun tak mampu melindungi jiwa. Karena kesendirian tidak selalu menjadi teman terbaik.

dan pagi ini kembali menyatakan jarak. Meski dengan matahari secerah kesabaran, dan Tuhan yang Maha Bebas menentukan batasnya. Aku menanti seperti biasa. Untuk bisa bersama menuliskan buku ini denganmu.

28 august 2016  and annoying influenza.

 

 

 

 

Posted in Uncategorized

Let’s enjoy Ramadhan

Hi there,

Akhirnya memang harus Ramadhan di rantau :). But it’s okay, new experience, right? new people and place may surprise you..so, semangat dong!.

Hari pertama tarawih pas Sydney lagi ada storm, jadi nggak berani keluar rumah karena banyak pohon-pohon tumbang. Sirene berbunyi dari pagi sampai malam..listrik sempat padam nyala tapi all is good. Disini warning systemnya juga baik, jadi sebelum ada cuaca buruk gini kita sudah diannounce sebelumnya, dengan perkiraan waktu bencana yang sangat jelas, jadi semua rencana juga lebih enak di reschedule.

Leganya, karena masuk puasa, semua kuliah sudah kelar. Semua assignment sudah kelar..tinggal belajar untuk final exam 2 minggu lagi. Ini kebetulan yang patut disyukuri banget, karena ada beberapa fakultas yang masih ada assignment yang due datenya berdekatan dengan exam. Semoga bisa lebih focus belajar, ibadah, dan lancar untuk examnya nanti.

Kemarin Alhamdulillah sempet ngikut salah satu pengajian muslimah disini. Materinya menarik dan inspiratif dan sangat relate dengan salah satu jurnal yang aku baca, yg relate to developmental experience, The Power of Small Wins dari Steven J. Kramer.

Berangkat dari pertanyaan besar tentang sudahkah kita menjadi muslim yang jauh lebih baik setelah melewati puluhan Ramadhan? or have we ever notice? Seperti halnya performance di kantor yang butuh progress checklist, ibadah kita juga perlu itu. Dan seperti semua usaha untuk membuat tujuan bias tercapai, kita membutuhkan rencana. A detailed plan yang harus clearly stated, misal, Ramadhan ini kita ingin nambah ibadah Sunnah, khatam Al Qur’an, atau being more generous person.  Yang mencapainya harus didukung “resources”, “timeline”, “ideas/strategy” —) istilah manajemennya yang biasa disebut catalyst, yang berarti itu kesehatan fisik kita untuk puasa dan strategi memaksimalkan Ramadhan sebagai bulan Qur’an, ibadah Sunnah dan sedekah.

Meanwhile, kita harus bisa setting “positive climate” atau environment yang mendukung untuk tenang beribadah–) istilahnya nourisher. Memahami apa aja yang bisa slow down progress ibadah itu (inhibitor), mulai dari nafsu, kecenderungan buat procrastinating, pengaruh dari teman yang menghambar ibadah, nggak disiplin sama timeline. Dan tentu menghilangkan semua toxin (hal-hal berbau maksiat) yang bisa menjauhkan kita sama sekali dari tujuan ibadah.

th1R92I4Q5

(masjid Auburn Gallipoli Sydney)

Big effort ya? tapi seperti halnya developmental experiences yang menjadikan seorang manusia menjadi better person and better leader, plan dalam mempersiapkan Ramadhan dan berdisiplin menjalankan rencana itu, akan menjadikan kita better moslem. Esensi dari mengapa kita diberi waktu untuk berjumpa dengan bulan suci ini. Semoga saya, kita semua bisa menjalankannya..aamiiin

Happy Ramadhan, all 🙂

 

 

 

Posted in Uncategorized

Random thinking  during hard week (catatan emak kuliah)

Diantara semua hari selama di Sydney, hari ini terasa hari yang paling istimewa. Bukan apa-apa, hari ini akhirnya berhasil, dengan pujian, tidak mengecewakan bisa presentasi kelompok di salah satu hardest course di semester ini. Bersyukur banget sama Allah, bener-bener bersyukur, entah karena memang presentasinya bagus, atau moodnya tutorku lagi bagus, dia yang biasanya ngebantai, bahkan setiap kata2 kita yang salah, tadi nggak ngebantai logikaku.

Presentasi ini ada di tengah-tengah week 9 dan 10 yang keramat untuk semua anak UNSW, dimana semua tugas besar, quiz, homework mingguan, group assignment, presentasi menemui due datenya. Mungkin kalian bisa mikir, emang nggak bisa dicicil? Jawabannya adalah, ada yang bisa ada yang enggak dan banyak yang enggak. Karena tugas besar means ada compelling, analysis and statistics, which is time-consumed. Homework itu muncul setiap meeting dan means itung-itungan yang matematika banget (dan bagi yang matematikanya payah kaya aku, itu challenging and frustrating). Group assignment means membaca puluhan jurnal HBJ yang semakin bertambah minggu makin high context dan presentasi means menyampaikan berbagai kurva ekonomi makro yang jaman S1 dulu dosenku sering bolos dan nyuruh2 bikin summary reading tapi ga pernah dikumpul. Nggak heran kalau very bigggg effort to adjust with education standard here.

Entahlah apa hanya aku sendirian yang so stressful these 2 weeks. Arc (student organization yg membawahi semua eskul di unsw) cukup empathic dengan ngadaian acara stress relase week di Quadrangle (gedung business school), dengan bentuk bazar, bikin kolam-kolam bola, nyediain spot buat nyanyi2, capoera, dan aktivitas menyenangkan lainnya, sekedar untuk jadi spot anak-anak yang merasa ingin melepas lelah.

Tapi inilah konsekuensi sebuah pilihan. Harus dihadapi, dengan semua possibility. Sempat terbersit, kenapa harus studi sejauh ini, pushing my limit untuk sekedar bisa survive dengan sistem marking yang ketat. Kalau mencari ilmu, pengetahuan, pengalaman, sudah pasti. Tapi apa lagi alasannya?  Jawabannya, ternyata ada di mbak-mbak yang mendadak jadikan aku responden untuk survey dari fakultas psikologi tadi sore. Surveynya adalah tentang bagaimana menstimulus otak untuk memecahkan permasalahan yang kompleks dalam kondisi yang stres. Dan memberi survey di stress week memang cara yang cerdas menurutku. Seperti yang aku rasain, aku mengisi dengan jujur kalau aku stress di kolom-kolom kuesionernya. Terus dia menunjukkan aku video tentang anak-anak bayi yang tertawa yang bikin aku tertawa sekaligus pengen nangis karena ingat filo. Setelah itu dia nanya gimana perasaanku setelah melihat video dengan feedback kuesioner lagi. Kemudian memberi aku tes semacam game yang cukup kompleks untuk diselesaikan. Dan setelah itu dia ngasih feedback lagi dari berapa lama aku menyelesaikan game itu. She said that i did it very well. Padahal aku nggak pernah main gamenya, dan selalu payah main game. Dia bilang, dari waktu yang yang habiskan  untuk main game itu, dalam kondisi yang dikatakan stress, aku bisa menyelesaikan masalah yang kompleks dengan cepat.

Mungkin itu, ya itu, itu jawaban kenapa harus jauh-jauh sekolah disini. Karena semua tekanan kuliah  ini, akan bantu aku untuk menyelesaikan masalah kompleks dengan cepat. Sama seperti kita nggak tahu seberapa besar kemampuan komputer kecuali kita memaksanya melakukan multitasking. Sama seperti otak kita, kadang ketika stress krn overload kita merasa tidak tahu apa sesungguhnya pencapaian yang kita buat dari semua ini, selain menyelesaikan semuanya. Tapi, tanpa kita sadari, we reach our optimum. And we can reach more.

Talk about different topics. Humm, dalam kondisi seperti ini, musuh terbesar dalam menyelesaikan semua tugas ini adalah nafsu di dalam diri kita. Bagaimana bisa stay focus dan tidak membuang waktu, demi kesenangan semu. Ketika kita berpikir, kesepian itu menyedihkan, tenggelam dalam berbagai tugas sampai lupa makan, mandi, ga sempat tidur itu mengerikan, akhirnya escape ke aktivitas lain yang sesungguhnya tidak terlalu bermanfaat bisa menjadi kesenangan seperti belanja hal yang nggak butuh atau hang out atas nama refreshing. Tapi guilty feeling itu…nggak akan sepenuhnya hilang. Kadang kalau mau ndengerin kata hati, kita nggak bener-bener happy kok sehabis itu.

Refreshing itu memang perlu, tapi nggak juga dengan berlebihan. Bisa dengan meluangkan waktu untuk tidur beberapa menit atau jam, bersih-bersih kamar, makan sesuatu yang enak, atau ngaji. Kadang, dengan semua pressure ini, ibadah bisa jadi menurun drastis kualitasnya, bahkan kuantitasnya. Ini pengalaman pribadi juga. Dan itu sih yang buat merasa semakin sendirian ngadepin ini semua. Dan jatuhnya adalah stress.

Kadang, kalau merefleksi ke diri sendiri. Aku belum menentukan posisiku, apakah aku sudah bener-bener committed untuk menjalankan semua ibadah karena aku membutuhkannya, atau karena aku harus melakukannya karena mengerti esensinya. Itu sih yang membuat aku jadi “nggak jelas”, aku sepenuhnya paham kalau sedang ada di kondisi itu. Sadar juga kadang cuma iqra solusinya. Membaca, bertanya, mengerti, dan tidak ada more denial ketika sudah merasa memahami. Semoga, semoga selalu ada hati dan akal yang jernih untuk menentukan dimana aku seharusnya berada.

Posted in Uncategorized

Vibe and Harmony and Life in Between

Dua hari di Melbourne memang terlalu singkat untuk menceritakan how to live there. Tapi terkadang tidak tergantung waktu kita bisa mengenal sesuatu, tapi bagaimana cara kita mengenalnya.

Satu hal untuk anak kampung seperti aku ketika melakukan perjalanan intercity Australia adalah “keribetan” seperti perjalanan inter-state. Semua harus dipersiapkan karena bahkan sesama kota besar seperti Sydney dan Melbourne punya sistem sendiri, mulai housing, transportasi, akses ke bandara, sampai urusan makanan halal. Apalagi jika pergi sendiri, pasti sudah males banget awalnya. Belajar kadang berawal dari keterpaksaan juga sih :B.

Alhamdulillah mesti mepet, dengan berbekal ngontak temen, bisa dipertemuin sama teman dari Indonesia yang kamarnya available. Rumahnya sangat nyaman, nggak terlalu jauh dari meeting point di city. Akses juga nggak terlalu sulit karena rumah dekat trem station, dan karena jalan raya di melbourne besar, jalur tremnya ya di ruas tengah jalan raya itu. Agak kaget sih awalnya, pas tidur kaya tinggal di samping rel kereta api. Hehehe..cuma bedanya, berisiknya masih terkendali. Nah, karena entah akunya yang misunderstanding sama info di website atau memang infonya membingungkan, aku sengaja nggak beli smartcard Melbourne untuk akses transportasi yg namanya “myki”, karena dari website “opal”- smartcardnya Sydney, mereka semua bisa dipake di seluruh New South Wales (Sydney dan Melbourne masuk dalam negara bagian ini). Alhasil pas sampai di Tullemarine (airport Melb) pagi2 banget, aku nggak kepikiran beli “myki”. Karena saran housemate-ku memang lebih murah naksi dari airport, daripada naik bus oper trem lagi. Setelah sampai di rumah, dan feeling ga enak, baru deh setelah tanya lebih detail, naik transport sini harus pakai ini kartu. Once again, (lupa) bertanya sesat di jalan. Karena harus strict to schedule ketemuan, akses tercepat dari rumah ke State Library Victoria ya Uber. Dari sini ceritanya bermula.

12921023_10209445175191377_763941821_n.jpg

(State Library Victoria)

12910839_10209445694004347_1578653672_n

(Book Grocer, Beckett Street)

My brother who drive this Uber car is a moslem Lebanese. A father of 1 son and 2 daughter, a grandpa for 6 childs. Sudah jadi citizen karena hampir 30 tahun tinggal di Melbourne, beliau jadi imigran sejak berumur 16 tahun. Satu hal yang membedakan selama pakai jasa Uber adalah mereka selalu mengajakmu ngobrol. Mungkin karena mereka tidak semata sedang bekerja, tapi they like to meet new people and share their story about the place to visit. Banyak diantaranya yang sangat helpful dengan menjawab pertanyaan2 yang kadang tidak tersedia di Google. Dan hari itu, karena dua bulan lagi dia dan sekeluarga akan pergi ke Bali, dia banyak juga bertanya tentang Indonesia. Terutama tentang safetynya. Dari situ akhirnya perbincangan mengalir ke moslem life di Indonesia dan di Melbourne yang sepanjang sepengetahuan dia selama hidup disana sangat nice, bahkan jauh lebih aman, lebih harmonis social life dengan non-muslim dibandingkan di negaranya. Dari situ akhirnya perbincangan mengalir ke konflik Syiah Sunni, dan banyak aliran di Islam sendiri yang menurut dia nggak make sense. Disparitas ekonomi di Timur Tengah antar muslim yang seharusnya nggak terjadi, leader yang tamak dan serakah, dan banyak hal prinsip yang seharusnya lebih diperhatikan daripada saling membunuh karena perbedaan keyakinan. Kadang memang melelahkan berbicara masalah kemanusiaan kalau dilihat dari kacamata politik dan agama. Dan lebih menenangkan dan positif jika membahasnya dari sisi nature kita sebagai manusia pengasih yang sedari lahir fitroh itu sudah dititipkan oleh Allah. Karena kita tidak tahu benar salah menurut siapa yang sesungguhnya paling benar. Yang jelas bukan berdasarkan media.

Dia juga selalu mengingatkan look after yourself, karena hidup sendiri dan belajar disini. It must be hard (yes it is) but only with learn you will survive. Jadi inget bapak kalau gini, hiks. Perbincangan ditutup dengan permintaannya untuk menyimpan nomor selulernya, supaya kalau aku butuh apa-apa, aku bisa kontak dia. Permintaan yang lazim jika seorang driver taksi untuk menawarkan kembali jasanya. Dan saat itu memang aku langsung kepikiran untuk langsung memesan jasanya ketika ke airport untuk balik Sydney yang jadwal pesawatnya memang malam. Biar lebih aman maksudku.

Perjalanan ke city sangat menyenangkan. Melbourne sangat vibrant, sama seperti semua orang bilang. Landmark dimana-mana, polusi juga terkendali karena banyak sekali burung, dan berbagai sejenisnya yang hidup berdampingan dengan happy disini. Karena cuacanya agak dingin, tapi masih sunny, banyak banget orang berjemur, membaca, ngobrol, makan di taman-taman city. Setelah bertemu dan menyerahkan pekerjaan. Aku mau coba muter kompleks state library di Swanston Street dan sekitarnya. Nggak punya purpose harus pengen lihat ini itu sih. Just walk and see.

12899968_10209445180151501_1827079517_n

(RMIT University @ Swanston Street)

12900130_10209445178631463_1891126223_n.jpg
Memang sepertinya harus terbiasa sih dengan semua crowd ditambah trem yang rasanya “menuh-menuhin” view. Tapi karena semuanya teratur, masih terasa nyaman. Ditambah hiburan melihat Victorian building yang berdampingan dengan manis bersama gedung-gedung futuristik (yang entah fungsional atau nggak) tapi mungkin itu bisa disebut more civilized dan khas melbourne. Belum ada kesempatan untuk explore setiap tempat-tempat itu karena hanya melihat dan mengabadikan. Disimpan untuk suatu hari bisa explore kesana. Hari aku datang juga sedang ada semacam Comedy Festival (stand – up comedy sudah jadi urban culture disini) dan mural art, jadi banyak turis dari kota lain yang khusus datang ke sini. Kanan kiri musisi jalanan dengan gitar, saksofon, klarinet, disambut musik pop jenis lain di tempat yang berbeda membuat kita nggak merasa sedang jalan sendiri. Perjalanan disudahi karena mulai mengantuk dan tidak sedang ingin menikmati kopi karena habis telat sarapan, aku balik ke housing untuk istirahat dan membenahi hasil bahasan kerjaan tadi.

Besoknya, karena pesawat berangkat malam. Aku bertemu dengan teman sesama LPDP yang sedang kuliah di RMIT dan Unimelb di Melbourne Central Shopping Center. Seru banget bisa kangen-kangenan dan ngobrol banyak seputar kuliah, about how we handle the barriers..:D. Sampai akhirnya karena agenda masing-masing, kami berpisah. Dan karena masih sekitar 5 jam lagi menuju boarding. Aku putuskan jalan ke Yarra River yang legendaris itu. Cukup berjalan lurus ke arah Flinders Station sekitar 2 km dari Melbourne Central sudah ketemu Yarra River dan Fed Square yang jadi jantung street art di Melbourne. Sayang karena overcrowded aku memilih nggak explore Fed Square tapi ke Yarra River yang lebih tenang buat orang uzur kaya aku ini. So peaceful and reflective. Di sini aku banyak berpikir tentang kuliah, tentang keluarga dan bagaimana yang harus men-treatment semuanya dengan sama baiknya. Open fearness that block my mind. Just think and plan, and let the rest to Allah.

12919085_10209445165831143_1583810154_n.jpg

(Yarra River)

12910466_10209445690084249_647197029_n.jpg

12910654_10209445688084199_275602948_n.jpg

12921138_10209445165311130_1077478829_n.jpgSt. Paul Cathedral @ Flinders Street

Hari sudah sore ketika balik ke housing. Dan menunggu jemputan Uber sambil ngobrol dengan teman penerima AAS yang sedang pursue PhD. Banyak perbincangan menarik seputar bagaimana membuat riset yang aplikatif di Indonesia. Bagaimana perjuangannya selama 2 tahun terakhir untuk belajar jadi researcher dan mengaplikasikannya dengan sistem di Indonesia yang sesungguhnya sudah ada, tapi tidak dioptimalkan, bahkan cuma dijadikan pajangan. hehe..Bukan semata ingin merealisasikan risetnya dengan credit baik, tapi perjuangan keras itu mencerminkan semangat untuk membuat Indonesia lebih baik. Beliau mengambil jurusan Science, konsentrasi Statistik, yang fokus risetnya tentang modelling yg aplikatif untuk mengantisipasi angka kematian dan kecacatan bayi dengan untrasonografi, ingin diaplikasikan di Kalsel yang memang membutuhkan. Ternyata banyak variabel yang harus diconsider untuk mengetahui tumbuh kembang bayi sampai dia lahir. Karena pasien tidak tahu, cuma tahunya di USG, diukur2, tanpa questioning what all those means. Ahli kesehatannya juga banyak yang tidak menganggap itu penting, karena banyak alasan yang tidak acceptable.Dan banyak hal lain seputar riset yang insya Allah nantinya akan berguna ketika dibagi ke teman-teman di Sydney.

Brother Uber sudah datang tepat jam 7 malam dan dia menanyakan bagaimana hariku. Menyenangkan seperti biasa berbicang dengan beliau. Dengan sikapnya yang ramah dan positif, membuat obrolan ingin disambung lagi suatu hari nanti. Dan yang membuat terharu, ketika sampai di airport, dia nggak mau dibayar…

Alhamdulillah, Subhanallah.

Posted in Uncategorized

A Genuine Awardee

Suatu hari, seorang teman memposting tentang kekecewaan sekaligus “keikhlasan”nya menerima sebuah surat penerimaan beasiswa pemerintah dengan “term and condition” yang memupuskan harapannya. Si applicant beasiswa ini ingin bersekolah di universitas luar negeri, dan versi statusnya di medsos, dia sudah mendapat LoA disana, namun, oleh pemberi beasiswa, dia harus mengubah tujuan universitasnya menjadi dalam negeri, jika ingin diterima. Intinya, apa yang dia harapkan, impiannya bersekolah ke luar negeri  tidak tercapai, dan dia dengan halus menyalahkan sistem yang menghalanginya. Karena detail proses seleksi beasiswa yang confidential, ketika melihat statement-nya, saya nggak bisa menilai dengan cover both sides, apakah pernyataannya benar atau tidak , kita harus paham menurut versi pihak pemberi beasiswa juga bagaimana. Tapi menurut saya, sebuah pertimbangan dan alasan besar hadir dibalik pemindahan tujuan universitas dari luar negeri ke universitas dalam negeri, terutama bagi kepentingan si pemberi beasiswa. Siapa? Rakyat Indonesia.

Satu hal yang seringkali kita lupa, menjadi penerima beasiswa pemerintah, berarti kita sedang  mengemban amanah negara, in short, kebutuhan rakyat Indonesia. Tidak perlu kita ribut memikirkan siapa yang memegang kendali urusan negara, seribut dan seefisien apa corporate governancenya, ketika kita sepakat masuk ke dalam sistemnya sebagai pihak di luar sistem namun mendapatkan manfaatnya, kita lakukan tanggung jawab kita. Kalau kita tidak cocok dengan sistemnya, kita akan dengan tanpa penyesalahan dan complaining, will be stepping out from the system. Hypocrite memang jika setiap manusia tidak punya personal interest dalam setiap visi misinya di berlembar-lembar personal statement. Tapi, prioritas pemenuhannya, kepentingan negara setelah kepentingan pribadi, atau malah sebaliknya, yang harus direnungkan. Apakah benar, kita, abdi negara yang harus belajar ini benar-benar ingin membangun negara? Berapa ratus orang Indonesia yang akan mendapat manfaat dari kita?  Di sektor apa nanti kita akan berkiprah dan dalam bentuk apa? Berapa “return on investment” yang bisa kita kembalikan ke negara?. Dua ribu empat puluh lima hanya tinggal 29 tahun lagi, apa hal konkret yang bisa kita berikan ke negara ketika kita sibuk memikirkan ambisi pribadi dibandingkan kewajiban yang seharusnya kita lakukan?. Apakah benar sepulang belajar kita akan berkiprah dan memperbaiki sistem atau malah mengamankan peluang menjadi permanent resident di negara tempat kita studi, entah dengan alasan “atas nama negara” yang dibuat-buat lagi. Bagi penerima beasiwa, sudah jamak diketahui jika beberapa oknum penerima beasiswa tidak memanfaatkan kesempatan menjadi abdi negara ini dengan sebaik-baiknya, misal, dengan menyia-yiakan kesempatan pelatihan bahasa yang mahal atau nilai dan kelulusan yang underperformed, beberapa malah adalah putra-putra daerah yang sangat diharapkan bisa membawa perubahan bagi daerahnya. Bukan dengan pergunjingan terhadap sistem seleksi atau maklum atas  hierarchy of needs orang Indonesia, kita menilai hal tersebut. Tapi mengambil hikmah dari kasus-kasus tersebut dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri, “How about me?”

Memang benar kawan, siapa yang tidak ingin berkuliah di negara maju, dengan pendidikan yang berkualitas, lingkungan dan teknologi tertata yang mengatur seluruh kehidupan. Menikmati fasilitas luar biasa untuk pengembangan intelektual dan soft skills. Tapi mengusahakannya juga harus dibayar dengan kerja keras bahkan melintasi self-limit dan mengorbankan kebahagiaan pribadi yang kita punya. Tapi karena kita adalah “intellectual army” then we just bring our best of us to dealing with. we can’t complain right? Butuh sekedar intelektual untuk ada disini, tapi kemampuan menyelesaikan masalah sendiri dengan tanggung jawab. Bukankah complain di medsos tentang masalahmu menunjukkan ada tanggung jawab yang belum kita selesaikan. What we expect from that? Complaining something that you can’t change is not a productive communication. Seperti tentara yang nggak mungkin complain ketika ditugaskan menjadi pasukan perdamaian, atau mengeluhkan cuaca yang tidak mungkin kita ubah. If you can’t solve your own problem, how do you solve people’s problem? It is the right time to stop complaining, blamming and gossiping in social media.

Meanwhile,  penting bagi kita untuk paham, bahwa keberadaan kita di universitas luar negeri belum bisa disebut pencapaian seluruh rakyat Indonesia. Berapa banyak masyarakat Indonesia yang peduli? Bagaimana membuat kemenangan kita juga kemenangan mereka? Karena bahkan kebanyakan rakyat Indonesia lebih peduli dengan apa yang harus dimakan besok kok daripada ngurusin siapa yang akan sekolah ke luar negeri. Kita bisa bilang, saya lulusan univ 20 besar dunia dengan expertise A, B, C. Tapi rakyat di tempatmu nggak butuh itu kok, butuhnya bagaimana keahlianmu itu bisa bantu mereka dapat air bersih, berangkat sekolah nggak lewat jembatan reyot, naik bus sekolah dan dapat buku gratis. Itulah kenapa alasan terbesar kita menjadi abdi negara beasiswa pemerintah adalah melihat apa yang dibutuhkan negara (melalui plotting beasiswa pemerintah ke tujuan univ DN/LN) dan menjalani kemanapun tempat belajar yang kita tuju. Percayalah dengan peran talent management dalam setiap lembaga pemerintah pemberi beasiswa. Saya yakin mereka punya data “investasi” abdi negara yang sedang menimba ilmu di luar negeri/dalam negeri, kapan mereka semai dan untuk apa, dan awardee dengan expertise seperti apa lagi yang sedang dibutuhkan negara?. Negara ini tidak hanya butuh orang-orang pintar kawan, negara ini butuh orang-orang tangguh yang peka dengan masalah dan sanggup menjalankan kewajiban sebagai abdi negara dengan niat tulus.

Tulisan hanya curahan renungan selama dua minggu terakhir melihat fenomena ini-itu. Berharap tidak judmental dan merasa paling benar. Hanya berharap jadi refleksi bagi siapapun yang membacanya.

Posted in Uncategorized